- Sejarah Piagam Gumi Sasak
Piagam gumi
sasak ini lahir dengan proses panjang, beberapa intelektual sasak gelisah dengan
kondisi kebudayaan saat ini, melakukan kajian tentang realitas budaya sasak
saat ini dan kajian tentang bagaimana identitas kesasakan itu. Dalam proses
kajian panjang itu kemudian melahirkan beberapa karya yg merupakan bentuk dari
ekspresi budaya sasak tetapi terlebih berkaitan dengan khazanah intelektual dan
tanda tanda peradaban antara lain sejak tahun 2004 melahirkan kalender rowot
sasak, merupakan kajian astronomi terhadap tradisi warige pada warga sasak. Kajian
ini kemudian melahirkan kalender rowot yang menata kembali disemua rige dan
menjadikannya kalender konvensional. Dan kemudian kajian2 dilakukan dengan
aspek2 peradaban lain seperti masjid kuno, masjid adat, arsitektur .
Pada 17 agustus
2015 H. Lalu Agus Faturrahman melauncing buku yaitu Membaca Arsitektur Sasak, inilah awal dari sebuah upaya untuk
melahirkan suatu teks tentang bagaimana membangun kesadaran budaya. Diskusi-diskusi
terus dilanjutkan kemudian sekitar bulan September sampai Oktober sudah mulai
merancang, ada sesuatu yang harus
dilakukan dan itu dilakukan pada saat peluncuran kalender rowot pada tahun 2015
untuk tahun 2016 . Sejak bulan November para
tokoh sudah mulai merumuskan naskah-naskah dasarnya, kemudian Dr. H.L., Agus Fathurrahman
ditunjuk untuk menyusun konsep awalnya dari piagam tersebut dan diselesaikan
sampai awal desember.
Pada saat awal Dr. H.L., Agus Fathurrahman mengajukan judul Manifesto Kebudayaan Sasak, dikarenakan melihat
kondisi kebudayaan yang mulai melemah dan dikuasi oleh oleh sistem kekuasaan,kelompok2
tertentu yang lebih mengedepankan kebudayan untuk pariwisata . Mengambil judul
Manifesto kebudayaan maksudnya sebagai pernyataan sikap terhadap kebudayaan
atau realitas kebudayaan yang sedang berlangsung saat ini, kira-kira sama
seperti realitas di era 65, para
budayawan dan seniman merumuskan manifesto kebudayaan untuk menjawab kondisi
kebudayaan yang pada saat itu dikuasi oleh lekra (lembaga kebudayaan rakyat yang
merupakan alat partai komunis)
Dalam diskusi kemudian
berkembang gagasan untuk judul dari naskah tersebut diusulkan oleh Dr. Fajri
yang diberi judul Piagam Gumi Sasak dan semuanya sepakat untuk diberi nama
Piagam Gumi Sasak. Piagam gumi sasak ditandatangani oleh beberapa tokoh penting
dan berpengaruh. Setelah selesai dengan urusan penandatanganan. Pada taggal 26
desember 2015 untuk pertama kali piagam gumi sasak dibacakan oleh Dr. Fajri dihadapan
Majelis Adat Sasak dan beberapa tokoh se-pulau Lombok yang diundang untuk orasi
kebudayaan dan peluncuran kalender rowot serta pembacaan piagam gumi sasak.
Berikut adalah isi dari naskah
Piagam Gumi Sasak.
BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Menjadi bangsa Sasak adalah
amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi
mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah
kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak
yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang
terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak
yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang
menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai
catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah
dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat
ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan
perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah
membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara
bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah
bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami
anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama:
Berjuang bersama menggali dan
menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua:
Berjuang bersama memelihara,
menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara
kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya
Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan
harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa
bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai
religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:
Berjuang bersama membangun citra
sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi
tantangan peradaban masa depan.
Kelima:
Berjuang bersama dalam satu
tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai
Negara Kesatuan Republik Indonesia
Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju
kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal /
1437 H
26 Desember 2015
Ditandatangani bersama kami,
1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. Haji Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Bayu Windia M. Si
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fajri, M.A.
7. Dr. H. Jamaluddin, M. Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik, M. Hum.
9. Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.
10. Dr. H. Sudirman M. Pd.
11. Dr. H.L., Agus Fathurrahman
12. Mundzirin, S. H.
13. L. Ari Irawan, SE., S. Pd.,
M. Pd.
Untuk menyaksikan pembacaan
Piagam Gumi Sasak, lebih lengkapnya saksikan langsung pembacaan Piagam Gumi
Sasak dengan mengunjungi link di bawah ini.
Narasumber : Dr. H. L., Agus Faturrahman


Mulen mantep, Lombok iloveyou❤
BalasHapussmoga kita tetap bangga ya jadi orang sasak, trimakasih
HapusMari rapatkan barisan untuk melestarikan kebudayaan sasak. Ndk2 lile jari kanak sasak
BalasHapussmoga kita bisa sama sama melestarikan budaya sasak :)
HapusTerimakasi info sangat bermanfaat
BalasHapustrimakasih kembali
HapusSemoga kita bisa menjadi bagian melestarukan budaya Sasak.
BalasHapusamiiinn semoga ya, terimakasih
Hapussuku sasak mulen maiq mton (y)
BalasHapusLuar biasa ukhti ! Tetap semangat.
BalasHapusDan kalau punya buku nya membaca arsitektur sasak, bisa sy pinjam?
BalasHapushehe kalo buku nya belum punya
HapusMantab jiwa ! Budaya memang harus dipertahankan dan diperjuangkan.
BalasHapussmoga bisa sama - sama melestarikan ya inges :)
HapusSangat bermanfaat
BalasHapusThanks infonya
BalasHapusSangat menarik
BalasHapusInformasi sangat bermanfaat dan menarik.
BalasHapustrimakasih :)
Hapus