Minggu, 31 Desember 2017

PIAGAM GUMI SASAK


  • Sejarah Piagam Gumi Sasak
Piagam gumi sasak ini lahir dengan proses panjang, beberapa intelektual sasak gelisah dengan kondisi kebudayaan saat ini, melakukan kajian tentang realitas budaya sasak saat ini dan kajian tentang bagaimana identitas kesasakan itu. Dalam proses kajian panjang itu kemudian melahirkan beberapa karya yg merupakan bentuk dari ekspresi budaya sasak tetapi terlebih berkaitan dengan khazanah intelektual dan tanda tanda peradaban antara lain sejak tahun 2004 melahirkan kalender rowot sasak, merupakan kajian astronomi terhadap tradisi warige pada warga sasak. Kajian ini kemudian melahirkan kalender rowot yang menata kembali disemua rige dan menjadikannya kalender konvensional. Dan kemudian kajian2 dilakukan dengan aspek2 peradaban lain seperti masjid kuno, masjid adat, arsitektur .

Pada 17 agustus 2015 H. Lalu Agus Faturrahman melauncing buku yaitu Membaca Arsitektur Sasak, inilah awal dari sebuah upaya untuk melahirkan suatu teks tentang bagaimana membangun kesadaran budaya. Diskusi-diskusi terus dilanjutkan kemudian sekitar bulan September sampai Oktober sudah mulai merancang,  ada sesuatu yang harus dilakukan dan itu dilakukan pada saat peluncuran kalender rowot pada tahun 2015 untuk  tahun 2016 . Sejak bulan November para tokoh sudah mulai merumuskan naskah-naskah dasarnya, kemudian Dr. H.L., Agus Fathurrahman   ditunjuk untuk menyusun konsep awalnya dari piagam tersebut dan diselesaikan sampai awal desember.

Pada saat awal Dr. H.L., Agus Fathurrahman  mengajukan judul Manifesto Kebudayaan Sasak, dikarenakan melihat kondisi kebudayaan yang mulai melemah dan dikuasi oleh oleh sistem kekuasaan,kelompok2 tertentu yang lebih mengedepankan kebudayan untuk pariwisata . Mengambil judul Manifesto kebudayaan maksudnya sebagai pernyataan sikap terhadap kebudayaan atau realitas kebudayaan yang sedang berlangsung saat ini, kira-kira sama seperti realitas  di era 65, para budayawan dan seniman merumuskan manifesto kebudayaan untuk menjawab kondisi kebudayaan yang pada saat itu dikuasi oleh lekra (lembaga kebudayaan rakyat yang merupakan alat partai komunis)

Dalam diskusi kemudian berkembang gagasan untuk judul dari naskah tersebut diusulkan oleh Dr. Fajri yang diberi judul Piagam Gumi Sasak dan semuanya sepakat untuk diberi nama Piagam Gumi Sasak. Piagam gumi sasak ditandatangani oleh beberapa tokoh penting dan berpengaruh. Setelah selesai dengan urusan penandatanganan. Pada taggal 26 desember 2015 untuk pertama kali piagam gumi sasak dibacakan oleh Dr. Fajri dihadapan Majelis Adat Sasak dan beberapa tokoh se-pulau Lombok yang diundang untuk orasi kebudayaan dan peluncuran kalender rowot serta pembacaan piagam gumi sasak. 
  
Berikut adalah isi dari naskah Piagam Gumi Sasak.


BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.

Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.

Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:

Pertama:

Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.

Kedua:

Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.

Ketiga:

Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.

Keempat:

Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.

Kelima:

Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.



Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal / 1437 H

26 Desember 2015



Ditandatangani bersama kami,



1.   Drs. Lalu Azhar

2.   Drs. Haji Lalu Mujtahid

3.   Drs. Lalu Bayu Windia M. Si

4.   TGH. Ahyar Abduh

5.   Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph. D.

6.   Dr. Muhammad Fajri, M.A.

7.   Dr. H. Jamaluddin,  M. Ag.

8.   Dr. Lalu Abd. Khalik, M. Hum.

9.   Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.

10. Dr. H. Sudirman M. Pd.

11. Dr. H.L., Agus Fathurrahman

12. Mundzirin, S. H.

13. L. Ari Irawan, SE., S. Pd., M. Pd.

Untuk menyaksikan pembacaan Piagam Gumi Sasak, lebih lengkapnya saksikan langsung pembacaan Piagam Gumi Sasak dengan mengunjungi link di bawah ini.
  
Narasumber : Dr. H. L., Agus Faturrahman


19 komentar:

  1. Mulen mantep, Lombok iloveyou❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. smoga kita tetap bangga ya jadi orang sasak, trimakasih

      Hapus
  2. Mari rapatkan barisan untuk melestarikan kebudayaan sasak. Ndk2 lile jari kanak sasak

    BalasHapus
    Balasan
    1. smoga kita bisa sama sama melestarikan budaya sasak :)

      Hapus
  3. Terimakasi info sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. Semoga kita bisa menjadi bagian melestarukan budaya Sasak.

    BalasHapus
  5. Dan kalau punya buku nya membaca arsitektur sasak, bisa sy pinjam?

    BalasHapus
  6. Mantab jiwa ! Budaya memang harus dipertahankan dan diperjuangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. smoga bisa sama - sama melestarikan ya inges :)

      Hapus
  7. Informasi sangat bermanfaat dan menarik.

    BalasHapus